Sebagai bentuk dukungan kepada warga yang terlibat dalam pemadaman, Gubernur Jawa Barat, menurut Dian, menjanjikan insentif bagi sekitar 500 orang. Besarannya Rp200.000 per orang per hari selama dua hari, sehingga totalnya Rp400.000 per orang. Pendataan penerima tengah dilakukan oleh jajaran terkait di tingkat provinsi.
“Ini sebagai stimulan bagi masyarakat yang berjuang siang dan malam. Mereka membutuhkan dukungan karena kondisi di lapangan tidak mudah,” katanya.
Dian juga menyampaikan rencana koordinasi penyediaan pos medis dengan puskesmas terdekat. Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung kesehatan petugas dan relawan yang masih berjibaku di kawasan lereng gunung.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Berdasarkan pengamatannya, rumput, ilalang, dan sejumlah vegetasi, termasuk pohon sonokeling yang meranggas, berada dalam kondisi kering sehingga mudah terbakar dan api dapat cepat merambat terbawa angin.
“Jangan sembarangan. Kondisi sekarang sangat rentan. Kalau api sudah membakar lereng seperti ini, penanganannya sulit. Pohon-pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun bisa ikut terbakar,” tegasnya.
Dian menjelaskan, berdasarkan pengamatan awalnya, vegetasi kering seperti ilalang dan rumput menjadi material yang banyak terbakar. Ia tidak melihat adanya titik gambut di lokasi yang ditinjau, meskipun sejumlah pohon dilaporkan telah terdampak api.
Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan unsur terkait terus mengoordinasikan penanganan kebakaran. Dian berharap upaya bersama tersebut dapat mengendalikan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan lainnya.
Ia pun mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan berpartisipasi dalam menjaga kelestarian Gunung Ciremai, terutama selama musim kemarau ketika risiko kebakaran meningkat.(Heryanto)

















