Ke depan, Heni berharap sampah anorganik juga dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, seperti bahan paving, batako, meja, maupun berbagai kerajinan, tanpa harus dibakar.
Bangun Kemandirian Ekonomi dari Sampah
Heni menilai, pengelolaan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru.
Ia berharap inisiatif tersebut dapat menjadi proyek percontohan bagi pelaku usaha di sektor makanan dan minuman (food and beverage/F&B), agar tanggung jawab terhadap lingkungan berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi.
“Dari usaha F&B saja sudah ada peluang kerja. Kami berharap pengolahan sampah juga bisa membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi kembali,” ungkapnya.
Arunika saat ini menjadikan pengembangan tersebut sebagai laboratorium awal untuk menguji dan menyempurnakan konsep pertanian terintegrasi. Ke depan, pengembangan kawasan arboretum juga menjadi salah satu gagasan yang ingin diwujudkan dengan memanfaatkan potensi Palutungan sebagai destinasi wisata di Kabupaten Kuningan.
Heni berharap potensi tersebut dapat dikembangkan secara bertahap dengan tetap memperhatikan prosedur yang berlaku, sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas.
Ia juga melihat peluang penerapan model serupa di wilayah lain di Kabupaten Kuningan. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, pengolahan sampah serta pengembangan pertanian terintegrasi dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan daerah.
“Kita jangan selalu bergantung pada anggaran atau pihak luar. Potensi dari dalam daerah sendiri bisa dikembangkan untuk membangun ekosistem pangan yang mandiri,” pungkasnya.
Melalui budidaya maggot dan pertanian terintegrasi, Arunika berupaya menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga sumber daya yang dapat diolah menjadi peluang ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan pertanian berkelanjutan di Kuningan.(Heryanto)

















