Dalam pelaksanaannya, Rumah Tani mengusung pola kemitraan dengan petani. Dukungan yang diberikan bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan penyediaan sarana produksi seperti benih dan pupuk. Skema ini diharapkan mampu meringankan beban petani sekaligus meningkatkan produktivitas.
Adapun sumber lahan yang digunakan merupakan kombinasi dari berbagai pihak, mulai dari lahan milik Rumah Tani sekitar 50 hektar, lahan desa yang disewa maupun dikerjasamakan—termasuk di wilayah Sindangjawa—hingga lahan milik pemerintah daerah seluas sekitar 17 hektar.
Bahtiar juga menyoroti potensi besar lahan tidur di Kabupaten Kuningan yang mencapai sekitar 49.000 hektar. Menurutnya, jika lahan tersebut dapat dioptimalkan, Kuningan tidak hanya mampu mandiri secara pangan, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap kebutuhan nasional.
“Kalau lahan-lahan tidur itu bisa kita aktifkan, bukan tidak mungkin Kuningan menjadi salah satu daerah penopang utama swasembada jagung nasional,” pungkasnya.(Heryanto)


















