Menurut Asep, kegiatan tersebut terlaksana berkat partisipasi sukarela para orang tua siswa. Selain menyumbangkan tenaga, mereka juga menyediakan makanan dan minuman untuk mendukung kegiatan kerja bakti.
Di balik semangat kebersamaan tersebut, terdapat persoalan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, ruang kelas yang ambruk itu baru selesai direhabilitasi pada 2025. Pihak kepala sekolah dan komite disebut tidak mengetahui secara pasti proses awal pekerjaan rehabilitasi karena rekanan tiba-tiba datang dan mulai mengerjakan perbaikan ruang kelas tersebut.
Informasi mengenai pelaksanaan rehabilitasi, kualitas pekerjaan, serta penyebab ambruknya bangunan perlu ditelusuri lebih lanjut oleh instansi terkait. Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan mengenai hasil pemeriksaan teknis yang dapat memastikan penyebab keruntuhan tersebut.
Asep menyampaikan, harapan utama para orang tua siswa dan guru saat ini adalah agar pemerintah melalui dinas terkait segera mengambil langkah nyata untuk membangun kembali ruang kelas yang ambruk.
“Kami memohon kepada dinas terkait agar pembangunan kembali gedung sekolah dapat dipercepat. Kami ingin anak-anak bisa kembali belajar dengan aman dan nyaman seperti semula,” harapnya.
Peristiwa ini menjadi perhatian penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam memastikan bangunan sekolah memenuhi standar keamanan dan kelayakan. Evaluasi terhadap kondisi bangunan, riwayat rehabilitasi, serta penanganan pascakejadian diperlukan agar keselamatan siswa tetap menjadi prioritas dan kegiatan belajar mengajar di SDN 3 Cihirup dapat kembali berjalan dengan baik.(Heryanto)

















