“Jangan sampai tanahnya subur, hasil panennya melimpah, tetapi yang menikmati keuntungan justru bukan petaninya. Rumah Sayur harus menjadi simbol keberpihakan kepada petani lokal,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Rumah Sayur tidak hanya menjadi pusat transaksi jual beli hasil pertanian, tetapi juga diharapkan berkembang menjadi sentra pangan hortikultura yang memasok kebutuhan rumah tangga, restoran, swalayan hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengutamakan hasil panen petani Kuningan.
Bupati juga mendorong seluruh pelaku usaha, termasuk restoran, katering, swalayan, koperasi, dan pengelola MBG, agar memprioritaskan produk pertanian lokal melalui kemitraan dengan PDAU dan Rumah Tani.
“Perputaran anggaran MBG di Kuningan sangat besar. Dampaknya harus benar-benar dirasakan petani, pedagang kecil, dan UMKM lokal. Jangan sampai hanya dinikmati kelompok tertentu,” katanya.
Di akhir sambutannya, Dian memberikan pesan khusus kepada Direktur PDAU dan CEO Rumah Tani Nusantara agar menjaga kualitas pelayanan secara berkelanjutan.
“Yang paling sulit itu bukan membuka usaha, tetapi menjaga konsistensi. Jangan hanya saat peresmian harga murah, barang lengkap dan segar, tetapi beberapa bulan kemudian kualitas menurun, harga naik, atau stok tidak tersedia. Promosi paling berbahaya adalah promosi buruk dari mulut ke mulut. Sekali masyarakat kecewa, nama baik yang dibangun berbulan-bulan bisa hilang seketika,” pesannya.
Bupati berharap Rumah Sayur menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus cikal bakal lahirnya pasar sayur modern di Kabupaten Kuningan yang mampu mengangkat daya saing produk pertanian lokal.
“Saya ingin Rumah Sayur menjadi rumah bagi para petani Kuningan. Program ini harus dijaga bersama, karena setiap sayuran yang kita konsumsi adalah hasil kerja keras dan harapan para petani untuk hidup lebih sejahtera. Mari kita jadikan Rumah Sayur sebagai simbol kemandirian pangan dan kebangkitan ekonomi pertanian Kabupaten Kuningan,” pungkasnya.(Heryanto)


















