Ia juga menyoroti pesatnya pertumbuhan vila, rumah, dan tempat wisata di kawasan lereng Palutungan yang dinilai belum memperhatikan aspek konservasi lingkungan dan sistem resapan air.
“Banyak pembangunan yang tidak menyiapkan daerah resapan, tidak membuat biopori, bahkan tidak memiliki saluran pembuangan air yang baik. Akibatnya air langsung tumpah ke jalan dan menyebabkan luapan,” tegas Dian.
Lebih jauh, Bupati mengungkapkan bahwa banyak bangunan di pinggir jalan yang sama sekali tidak membuat drainase di depan propertinya. Kondisi tersebut memperburuk aliran air ketika hujan deras turun.
“Kita menemukan masih banyak pemilik bangunan maupun tempat wisata yang belum memiliki kesadaran lingkungan. Air langsung dibuang begitu saja ke jalan tanpa sistem drainase yang benar,” ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga menemukan adanya tiang listrik yang berdiri tepat di dalam saluran drainase sehingga menghambat arus air dan memperparah penyumbatan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan akan segera mengumpulkan para pemilik vila, pengelola wisata, serta pihak terkait untuk melakukan evaluasi bersama dan merumuskan langkah penanganan jangka panjang.
“Kita akan kumpulkan para pemilik vila dan pelaku wisata. Kawasan Palutungan ini harus tetap berkembang, tetapi jangan sampai pembangunan mengorbankan lingkungan. Alam tidak boleh terus menanggung kesalahan manusia,” tandasnya.
Bupati menambahkan, penataan kawasan wisata berbasis kelestarian lingkungan harus menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak terus berulang, terlebih kawasan Palutungan merupakan salah satu destinasi unggulan Kabupaten Kuningan yang berada di kawasan kaki Gunung Ciremai.
“Kalau tidak mulai dibenahi dari sekarang, maka risiko bencana ekologis akan semakin besar. Ini menjadi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.(Heryanto)


















