Scroll ke bawah
banner 300x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
News

Eyang Kyai Hasan Maulani Resmi Dipakai Nama Jalan Lingkar Timur

322
×

Eyang Kyai Hasan Maulani Resmi Dipakai Nama Jalan Lingkar Timur

Sebarkan artikel ini
Example 728x250

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kuningan, Toni Kusumanto, menjelaskan bahwa sebelumnya nama Eyang Kyai Hasan Maulani pernah dicantumkan pada ruas jalan kecil antara Desa Ancaran dan Karangtawang.

H. Yusron Kholid, mantan Kepala Kemenag Kuningan yang juga cicit Eyang Kyai Hasan Maulani, menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kuningan atas penetapan nama tersebut. “Sejatinya Kiai Hasan Maolani bukan hanya milik dzuriyyah atau keturunannya, tetapi aset historis masyarakat Kuningan, Tatar Sunda, dan bangsa Indonesia,” katanya.

Baca Juga :  Ziarah Makam Bupati Terdahulu, Wabup Tuti Ajak Masyarakat Tak Melupakan Akar Sejarah Kuningan

Yusron menyebut, Eyang Kiai Hasan Maulani lahir di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, pada Senin Legi, 22 Mei 1782 Masehi atau 8 Jumadil Akhir 1196 Hijriyah. Ia merupakan putra dari Kyai Tubagus Lukman bin Kyai Sathor dari Kelurahan Citangtu dan Ny. Murtasim binti Kyai Arifah asal Desa Garawangi. Keduanya menetap di Desa Lengkong dan mendirikan pesantren Roudlotuttholibin.

Dikisahkan dalam buku Mengenang Sang Kyai Sedjati Eyang Maulani karya Abu Abdullah Hadziq, Eyang Maulani atau Eyang Hasan Maulani, Eyang Manado adalah ulama besar asal Lengkong yang dibuang Belanda ke Manado (tepatnya kampung jawa Tondano Sulawesi Utara) pasca-Perang Diponegoro pada pertengahan abad ke-19.

Baca Juga :  Waktu Lomba Menulis Bertema “Pengalaman Buruk dengan Polisi Indonesia” Diperpanjang Hingga 15 Desember 2025

 

Ia dikenal sebagai tokoh yang disegani dan memiliki pengaruh besar. Ia telah menunjukan konsistensinya sebagai anak bangsa yang anti penjajah dan pantang berkhianat kepada rakyatnya.

Selain sebagai ulama, Eyang Maulani memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Dikisahkan, beliau tidak pernah makan kenyang selama hidupnya dan sering bertafakur. Ia juga menjalani tirakat dengan mengurangi makan, minum, dan tidur demi mengamalkan pepatah Sunda, Lamun hayang boga perah kudu daek peurih.

Baca Juga :  Pimpin Apel Pagi, Wakapolres Majalengka Tegaskan Tidak Ada Toleransi untuk Pelanggaran

Hadir Unsur Forkopimda, Kamenag, Pj Sekda, Pj Sekda, Kepala OPD, Camat, Kepala Desa, Ketua MUI, Paguyuban Keluarga Besar KH. Hasan Maolani Lengkong-Kuningan. (Heryanto)

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin