Terkait kelompok usia yang paling banyak mengalami keluhan, Edi mengatakan Dinkes masih menunggu data resmi dari tim surveilans.
Meski demikian, berdasarkan pengamatan sementara, keluhan batuk pilek terlihat banyak dialami anak-anak. Namun, data tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui hasil surveilans sebelum disampaikan secara resmi.
“Data masih kami tunggu dari tim surveilans. Saya memang melihat banyak anak-anak, tetapi nanti akan kami lihat berdasarkan data. Anak-anak termasuk kelompok rentan karena imunitasnya belum sebaik orang dewasa,” katanya.
Dinkes juga akan memetakan wilayah dan kemungkinan klaster setelah data surveilans terkumpul, termasuk melihat apakah peningkatan kasus berkaitan dengan lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Masker hingga Jaga Imunitas
Menghadapi meningkatnya keluhan batuk pilek, Edi mengimbau masyarakat memperkuat daya tahan tubuh dengan menjaga pola makan dan istirahat.
Selain itu, penggunaan masker kembali dianjurkan, terutama saat berada di tempat umum dan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kalau di sekolah, sebisa mungkin menggunakan masker. Terutama yang sedang sakit, wajib memakai masker kalau masih harus beraktivitas,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan tangan sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran penyakit.
Edi menegaskan, lonjakan keluhan batuk pilek saat ini menjadi perhatian Dinkes. Namun, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa seluruh kasus tersebut merupakan influenza atau COVID-19 sebelum ada pemeriksaan yang dapat mengonfirmasi penyebabnya.(Heryanto)

















