“Kami mengundang seluruh komponen masyarakat untuk bahu-membahu membersihkan kembali balong. Harapannya ke depan Balong Girang semakin jernih, tertata, dan menjadi tempat wisata yang membanggakan,” katanya.
Sementara itu, sambutan Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar yang dibacakan Wakil Bupati Tuti Andriani menegaskan bahwa Balong Girang memiliki nilai sejarah, budaya, spiritual, dan ekologis yang sangat tinggi bagi masyarakat Kuningan.
Dalam sambutan tersebut disampaikan, musibah matinya ikan dewa menjadi pengingat penting bahwa menjaga alam harus dilakukan secara terus-menerus dan menjadi tanggung jawab bersama.
Pemerintah Kabupaten Kuningan mengapresiasi semangat warga Cigugur yang turun langsung membersihkan kolam, menguras lumpur, hingga menata kembali kawasan Balong Girang secara gotong royong.
“Ketika alam membutuhkan pertolongan, masyarakat hadir dengan kepedulian dan kebersamaan. Inilah kekuatan masyarakat Kuningan yang sesungguhnya,” ujar Tuti Andriani saat membacakan sambutan Bupati.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan mata air dan lingkungan sekitar agar habitat ikan dewa tetap lestari. Menurutnya, kelestarian kancra bodas bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh masyarakat.
“Kalau kita menjaga alam, maka alam juga akan menjaga kehidupan kita. Kalau kita menjaga mata air, maka mata air akan menjaga generasi kita,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga mengenang Balong Girang sebagai tempat legendaris yang pernah menjadi lokasi berenang masyarakat sejak dulu. Karena itu, ia berharap kawasan tersebut terus dijaga dan dipelihara agar tetap menjadi kebanggaan masyarakat Cigugur dan Kabupaten Kuningan.
Kegiatan gotong royong kemudian secara resmi dimulai dengan penuh semangat kebersamaan. Warga tampak antusias membersihkan area kolam demi menjaga kelestarian Balong Girang sebagai ikon lingkungan, budaya, dan wisata Cigugur.(Heryanto)


















