“Insyaallah nanti akan kami bantu. Air di sini dibutuhkan untuk wudu, mandi, dan memasak. Air adalah sumber kehidupan sehingga persoalan ini harus menjadi perhatian bersama. Kami akan melihat langsung di mana letak kendalanya, apakah pada sumber mata air, jaringan pipa atau persoalan teknis lainnya. Mudah-mudahan bisa segera dicarikan solusi,” tegas Rokhmat Ardiyan.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap kiprah Villa Quran yang telah membina puluhan santri dari berbagai daerah di Indonesia hingga berhasil meluluskan lebih dari 70 alumni, bahkan sebagian telah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sementara itu, Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani mengaku terharu melihat perjuangan para santri dan pengelola pesantren yang dengan segala keterbatasan tetap memberikan pendidikan serta kasih sayang kepada anak-anak yatim dan dhuafa.
Menurutnya, program Mondok Sabtu-Ahad merupakan inovasi positif yang mampu membentengi anak-anak dari dampak negatif penggunaan gawai sekaligus mengenalkan kehidupan pesantren sejak dini.
Terkait persoalan air bersih, Tuti memastikan Pemerintah Kabupaten Kuningan akan ikut memberikan perhatian.
“Kendala utamanya memang air. Ini harus kita dukung bersama. Nanti akan kami komunikasikan juga dengan PDAM agar keberadaan Villa Quran bisa memperoleh dukungan, karena lembaga seperti ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Suasana haru pun mewarnai kunjungan tersebut ketika Wakil Bupati tak mampu menyembunyikan rasa emosinya saat bertemu para santri yatim. Baginya, Villa Quran bukan hanya tempat belajar Al-Qur’an, tetapi juga menjadi rumah yang menghadirkan kasih sayang bagi anak-anak yang kehilangan atau hidup dalam keterbatasan.
Di tengah kesederhanaannya, Villa Quran terus menjadi cahaya harapan bagi puluhan anak yatim dan dhuafa. Kini, harapan terbesar mereka bukanlah kemewahan, melainkan tersedianya air bersih agar para santri dapat berwudu dengan layak sebelum menghadap Sang Pencipta.(Heryanto)


















