Fery juga menyoroti pentingnya pemerataan pertumbuhan UMKM hingga ke pelosok desa guna mempercepat target Kabupaten Kuningan lepas dari zona kemiskinan ekstrem. Berdasarkan data terbaru, terdapat sekitar 42.937 UMKM aktif di Kuningan yang tersebar di berbagai kecamatan, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Ciawigebang, Cigugur, dan Cilimus.
“Potensi kita besar, tetapi tantangannya juga nyata. Hampir setengah pelaku UMKM berisiko gulung tikar akibat persoalan kualitas sumber daya manusia dan mentalitas bisnis yang belum kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persoalan pemasaran, manajemen keuangan, hingga rendahnya kemampuan adaptasi digital masih menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang lebih kompetitif.
Untuk memaksimalkan potensi ekonomi daerah, Fery menyampaikan sejumlah catatan strategis kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan, di antaranya percepatan legalitas usaha melalui kepemilikan sertifikasi SPP-IRT bagi pelaku industri rumah tangga, perluasan program digitalisasi UMKM hingga tingkat desa, penguatan literasi keuangan dan akses pembiayaan sehat berbasis syariah, serta peningkatan promosi produk unggulan lokal melalui pameran tematik yang melibatkan desa-desa.
Ia berharap langkah-langkah tersebut dapat menjadi fondasi penguatan ekonomi masyarakat sebelum pelaksanaan sensus dimulai pada 2026 mendatang.
“Harapan kami besar. Sebelum petugas sensus turun ke lapangan, pondasi ekonomi masyarakat harus sudah diperkuat. Kami ingin melihat Kuningan yang mandiri, dengan angka kemiskinan ekstrem yang mampu ditekan hingga titik nol,” pungkasnya.
Sensus Ekonomi merupakan agenda nasional yang bertujuan memotret secara menyeluruh kondisi dan struktur ekonomi nonpertanian di Indonesia. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan strategis, baik di tingkat pusat maupun daerah.(Heryanto)


















