“Ini kita niatkan sebagai ibadah dan mendekatkan tradisi kita dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan jika nanti berbuah, hasilnya dapat dinikmati umat dan masyarakat,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Dodo juga menjelaskan bahwa proses penanaman kurma memiliki nilai pembelajaran. Menurutnya, pohon kurma membutuhkan proses penyerbukan antara pohon jantan dan betina agar dapat menghasilkan buah yang sempurna.
“Kurma itu bisa berbuah di Indonesia. Hanya saja perlu diperhatikan proses penyerbukannya. Ada pohon jantan dan betina, sehingga nantinya menghasilkan buah yang baik,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat agar tidak membuang biji kurma yang dikonsumsi. Menurutnya, biji kurma dapat dibibitkan dengan cara sederhana hingga tumbuh menjadi tanaman baru.
“Biji kurma bisa direndam, kemudian ditumbuhkan hingga menjadi kecambah dan ditanam di polibag. Insyaallah bisa tumbuh,” ujarnya.
Sementara itu, empat pohon kurma yang ditanam berasal dari hibah Pondok Pesantren Al-Azhar Ciwiru sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan nilai keagamaan dan lingkungan di Kabupaten Kuningan.
Selain penanaman pohon kurma, kegiatan tersebut juga menjadi momentum peluncuran Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 Jam yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami kandungan Al-Qur’an secara lebih mudah dan sistematis.
“Semoga program ini memberikan manfaat dan menjadi jalan bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an,” pungkas Ketua MUI Kabupaten Kuningan.(Heryanto)


















