Ia menjelaskan, peringatan Maulid yang dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal memiliki keterkaitan erat dengan tradisi penerimaan siswa baru Cimande. Salah satu bagian pentingnya adalah pembacaan Sareat Taleq atau Pangeling-eling yang memuat 14 poin tuntunan perilaku dan kehidupan.

“Yang pertama adalah harus taat dan takwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah itu hormat kepada ibu, bapak dan orang tua, hormat kepada guru dan pemerintah, serta tuntunan perilaku lainnya,” kata Herdiana.
Menurutnya, nilai-nilai dalam Sareat Taleq memiliki keterkaitan kuat dengan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, sehingga para pesilat Cimande diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga mempunyai akhlak karimah dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan.
Herdiana juga menekankan bahwa pencak silat Cimande memiliki dua sisi yang harus berjalan beriringan, yakni menjaga tradisi warisan leluhur dan membangun prestasi.
“Silat bukan hanya tentang bela diri. Kita harus merawat tradisi dan warisan para leluhur, tetapi pada saat yang sama harus mampu berprestasi. Pembinaan karakter dan pembinaan prestasi harus berjalan bersama,” ungkapnya.
Ia berharap para siswa baru mampu memperkuat keimanan, menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, serta menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan serupa disampaikan Sesepuh Cimande, Oyo Sumaryo, yang mengingatkan para siswa agar memahami bahwa belajar Cimande bukan untuk mencari kegagahan, menyombongkan diri atau menggunakan kemampuan silat secara sembarangan.
Menurut Oyo, sejak dahulu ajaran Cimande sangat menekankan nilai agama dan perilaku. Para pesilat dilarang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama dan akhlak, seperti mabuk, berjudi, mengadu, mencuri, ujub, riya, takabur, iri, dengki, jahil maupun melakukan tindakan aniaya.
“Yang dilarang oleh agama, itu juga tidak boleh dilakukan dalam Cimande. Belajar silat bukan untuk gagah-gagahan atau ugal-ugalan, tetapi agar kita selamat dunia dan akhirat,” tegasnya.
Oyo juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan anak-anaknya untuk belajar di Perguruan Cimande. Ia berharap para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang saleh dan salehah, rajin berlatih serta kelak mampu meneruskan ilmu dan tradisi Cimande.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, selain penerimaan siswa baru dan peringatan Maulid Nabi, juga dilaksanakan sejumlah tradisi dan kegiatan budaya, di antaranya Ngariksa Cai, Ngarumat Pusaka, tawasul dan ziarah ke makam sesepuh serta pendiri PPCA, pembacaan shalawat, Keceran, penampilan seni pencak silat Cimande, Ngabumbang serta pembacaan Sareat Taleq.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar Pajajaran Cimande Kabupaten Kuningan untuk memperkuat silaturahmi sekaligus meneguhkan komitmen bahwa pencak silat tidak hanya melahirkan pesilat yang tangguh secara fisik, tetapi juga generasi yang memiliki iman, akhlak karimah, karakter kuat, disiplin dan menjunjung tinggi nilai budaya serta keteladanan Rasulullah SAW.(Heryanto)


















