“Tidak semua persoalan berawal dari niat buruk. Terkadang ada kesalahpahaman yang dapat diselesaikan melalui komunikasi. Kritik juga sering kali lahir dari kepedulian, bukan semata-mata untuk menjatuhkan,” katanya.
Ia berharap masyarakat Kuningan tetap mempertahankan kebiasaan untuk mendengar sebelum memberikan penilaian serta membuka ruang percakapan dalam menghadapi perbedaan.
Menurutnya, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan duduk bersama, namun masih banyak masalah yang dapat menemukan jalan keluar melalui dialog dan saling memahami.
“Pada akhirnya, setelah berbagai perdebatan selesai, kita tetap hidup berdampingan di tanah yang sama. Anak-anak kita bersekolah di tempat yang sama, kita beraktivitas di lingkungan yang sama. Karena itu, menjaga hubungan baik antarwarga menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Dadan menegaskan, Kuningan tetap membutuhkan hukum sebagai penjaga keadilan, tetapi juga membutuhkan sikap saling menghargai, hati yang lapang, serta ruang musyawarah agar masyarakat tetap merasa sebagai keluarga besar yang bersama-sama mencari solusi terbaik.
“Yang sering dirindukan masyarakat bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan suasana ketika perbedaan tetap bisa dibicarakan dengan tenang. Duduk bersama, menikmati secangkir kopi, dan berbicara sebagai sesama warga Kuningan,” pungkasnya.(Heryanto)


















