Scroll ke bawah
banner 300x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
DaerahNews

Ruh Budaya Babarit Winduherang Terancam Tergerus, Warga Soroti Penyederhanaan Tradisi

29
×

Ruh Budaya Babarit Winduherang Terancam Tergerus, Warga Soroti Penyederhanaan Tradisi

Sebarkan artikel ini
Example 728x250

“Saya seorang muslim yang memahami pentingnya menjaga akidah. Namun mencintai budaya tidak berarti meninggalkan agama. Keduanya dapat berjalan beriringan selama dipahami dengan baik,” jelasnya.

Menurut Handy, berbagai tradisi budaya harus dilihat secara utuh sebagai bagian dari sejarah, simbol rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, serta media mempererat hubungan sosial masyarakat.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memberikan penilaian terhadap sebuah tradisi tanpa memahami latar belakang sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga :  Pgs Kasdim Majalengka Tekankan Disiplin saat Pimpin Upacara Bendera di Makodim

“Jangan sampai perbedaan pandangan justru membuat warisan budaya yang sudah dijaga ratusan tahun perlahan hilang,” tegasnya.

Handy menilai kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat Winduherang memiliki nilai sejarah besar sebagai salah satu wilayah yang berkaitan dengan perjalanan sejarah awal Kuningan.

Menurutnya, ketika banyak daerah lain berupaya mengangkat tradisi lokal sebagai identitas dan kekuatan budaya, Winduherang seharusnya semakin memperkuat Babarit sebagai salah satu kebanggaan daerah.

Baca Juga :  Ketua KONI Kuningan: Liga Jabar Istimewa U-10 dan U-12 Jadi Harapan Baru Sepak Bola Daerah

Ia pun mempertanyakan keberlangsungan tradisi tersebut apabila setiap tahun unsur-unsur budayanya terus berkurang.

“Kalau hari ini beberapa rangkaian mulai hilang, bagaimana wajah Babarit beberapa tahun ke depan? Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal Babarit melalui cerita dan dokumentasi lama,” tuturnya.

Meski demikian, Handy menegaskan kritik yang disampaikan bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan budaya lokal.

Baca Juga :  Laporan Dicabut, Uang Rp26 Juta Muncul: Misteri Ferrari Rp4,2 Miliar di Kuningan Kian Menggelinding

Ia berharap seluruh pihak dapat membuka ruang diskusi agar Babarit tetap menjadi tradisi yang hidup, berkembang, dan mampu menjawab perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai sejarahnya.

“Budaya akan tetap hidup bukan karena semua orang selalu memiliki pandangan yang sama, tetapi karena ada kepedulian bersama untuk menjaganya,” pungkas Handy Ramadhan, warga Kelurahan Winduherang.(Heryanto)

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90
Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin