“Saya seorang muslim yang memahami pentingnya menjaga akidah. Namun mencintai budaya tidak berarti meninggalkan agama. Keduanya dapat berjalan beriringan selama dipahami dengan baik,” jelasnya.
Menurut Handy, berbagai tradisi budaya harus dilihat secara utuh sebagai bagian dari sejarah, simbol rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, serta media mempererat hubungan sosial masyarakat.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memberikan penilaian terhadap sebuah tradisi tanpa memahami latar belakang sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai perbedaan pandangan justru membuat warisan budaya yang sudah dijaga ratusan tahun perlahan hilang,” tegasnya.
Handy menilai kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat Winduherang memiliki nilai sejarah besar sebagai salah satu wilayah yang berkaitan dengan perjalanan sejarah awal Kuningan.
Menurutnya, ketika banyak daerah lain berupaya mengangkat tradisi lokal sebagai identitas dan kekuatan budaya, Winduherang seharusnya semakin memperkuat Babarit sebagai salah satu kebanggaan daerah.
Ia pun mempertanyakan keberlangsungan tradisi tersebut apabila setiap tahun unsur-unsur budayanya terus berkurang.
“Kalau hari ini beberapa rangkaian mulai hilang, bagaimana wajah Babarit beberapa tahun ke depan? Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal Babarit melalui cerita dan dokumentasi lama,” tuturnya.
Meski demikian, Handy menegaskan kritik yang disampaikan bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan budaya lokal.
Ia berharap seluruh pihak dapat membuka ruang diskusi agar Babarit tetap menjadi tradisi yang hidup, berkembang, dan mampu menjawab perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai sejarahnya.
“Budaya akan tetap hidup bukan karena semua orang selalu memiliki pandangan yang sama, tetapi karena ada kepedulian bersama untuk menjaganya,” pungkas Handy Ramadhan, warga Kelurahan Winduherang.(Heryanto)


















