ELTV SATU || KUNINGAN — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia setiap Agustus tidak semestinya berhenti pada upacara, perlombaan, doa bersama, atau syukuran. Momentum kemerdekaan perlu menjadi ruang refleksi untuk kembali meneguhkan kecintaan terhadap tanah kelahiran sekaligus memperkuat komitmen membangun bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Riki Irfan, ST., M.Si., Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan, yang menilai kemerdekaan merupakan anugerah Allah SWT yang harus disyukuri melalui tindakan nyata, bukan sekadar seremoni.
Menurutnya, kecintaan terhadap tanah air merupakan bagian dari fitrah manusia. Ikatan dengan tempat kelahiran terbentuk melalui bahasa, budaya, lingkungan, keluarga, serta pengalaman yang membentuk identitas seseorang.
“Kerinduan terhadap kampung halaman ketika seseorang berada jauh dari tempat asalnya menunjukkan bahwa rasa memiliki terhadap tanah kelahiran merupakan bagian dari fitrah manusia,” ujarnya.
Dalam perspektif Islam, lanjut Riki, kecintaan terhadap tanah kelahiran juga tercermin dari sikap Rasulullah SAW terhadap Kota Makkah ketika harus meninggalkannya. Karena itu, mencintai negeri tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama tidak berubah menjadi fanatisme yang melahirkan kebencian dan ketidakadilan terhadap bangsa lain.
“Nasionalisme yang sehat adalah kecintaan kepada bangsa yang dibangun bersama keadilan, kejujuran, kepedulian dan penghormatan terhadap sesama,” katanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi digital, rasa memiliki terhadap bangsa dinilai semakin penting. Kemudahan mengakses informasi dan budaya dunia memang memperluas wawasan, tetapi juga dapat memunculkan sikap apatis serta kecenderungan mengagumi bangsa lain tanpa mengenali kekuatan dan potensi negeri sendiri.
Karena itu, momentum kemerdekaan harus diarahkan untuk memperkuat identitas, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Riki menyebut, nasionalisme dapat mendorong masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, menaati aturan, menjaga fasilitas umum, meningkatkan kualitas diri, serta berpartisipasi dalam pembangunan. Rasa memiliki terhadap bangsa juga menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan sosial ketika menghadapi berbagai tantangan.
















