ELTV SATU || KUNINGAN – Pelaksanaan tradisi Babarit Winduherang tahun 2026 menuai sorotan dari sebagian masyarakat. Penyederhanaan sejumlah rangkaian kegiatan yang selama ini menjadi ciri khas budaya tersebut dinilai berpotensi mengurangi makna dan nilai sejarah yang telah melekat selama ratusan tahun.
Salah seorang warga Kelurahan Winduherang, Handy Ramadhan, menyampaikan keprihatinannya terhadap perubahan susunan acara Babarit tahun ini yang dianggap berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya, khususnya Babarit 2025.
Menurut Handy, Babarit bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Winduherang. Tradisi tersebut memiliki nilai sejarah, kebersamaan, serta menjadi bentuk rasa syukur yang diwariskan secara turun-temurun.
“Babarit bukan hanya milik generasi hari ini, tetapi juga warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” ungkap Handy.
Ia menilai sejumlah prosesi budaya yang selama ini menjadi daya tarik Babarit mulai tidak terlihat dalam rangkaian kegiatan tahun ini. Beberapa unsur seperti penyambutan tamu dengan Tari Kawin Cai, prosesi adat, hingga tradisi makan bersama masyarakat disebut mengalami pengurangan.
Padahal, lanjut Handy, berbagai rangkaian tersebut merupakan bagian penting yang memberikan ruh dan karakter tersendiri bagi Babarit Winduherang.
“Yang dikhawatirkan, jika unsur budaya terus dikurangi, Babarit ke depan hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa kehilangan makna budayanya,” ujarnya.
Salah satu hal yang paling disoroti adalah tradisi makan bersama di sepanjang jalan yang selama ini menjadi simbol kebersamaan warga. Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya sekadar menyajikan makanan, tetapi menjadi ruang persatuan masyarakat tanpa melihat perbedaan status sosial, pekerjaan, maupun latar belakang.
“Di momen itulah warga duduk bersama, mempererat silaturahmi, dan menunjukkan nilai gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat Winduherang,” katanya.
Handy juga menyinggung adanya informasi yang berkembang di masyarakat terkait penyederhanaan sejumlah prosesi budaya yang diduga berkaitan dengan perbedaan pandangan terhadap beberapa tradisi dalam perspektif keagamaan.
Namun, ia menegaskan persoalan tersebut perlu dikaji secara bijaksana melalui ruang dialog antara tokoh agama, tokoh adat, budayawan, pemerintah, dan masyarakat.


















