Scroll ke bawah
banner 300x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
DaerahNews

Ruh Budaya Babarit Winduherang Terancam Tergerus, Warga Soroti Penyederhanaan Tradisi

27
×

Ruh Budaya Babarit Winduherang Terancam Tergerus, Warga Soroti Penyederhanaan Tradisi

Sebarkan artikel ini
Example 728x250

ELTV SATU || KUNINGAN – Pelaksanaan tradisi Babarit Winduherang tahun 2026 menuai sorotan dari sebagian masyarakat. Penyederhanaan sejumlah rangkaian kegiatan yang selama ini menjadi ciri khas budaya tersebut dinilai berpotensi mengurangi makna dan nilai sejarah yang telah melekat selama ratusan tahun.

Salah seorang warga Kelurahan Winduherang, Handy Ramadhan, menyampaikan keprihatinannya terhadap perubahan susunan acara Babarit tahun ini yang dianggap berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya, khususnya Babarit 2025.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Menurut Handy, Babarit bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Winduherang. Tradisi tersebut memiliki nilai sejarah, kebersamaan, serta menjadi bentuk rasa syukur yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga :  Diduga Belum Lengkap Perizinannya, Satpol PP Kuningan Segel Pembangunan Tower XL di Cilimus

“Babarit bukan hanya milik generasi hari ini, tetapi juga warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” ungkap Handy.

Ia menilai sejumlah prosesi budaya yang selama ini menjadi daya tarik Babarit mulai tidak terlihat dalam rangkaian kegiatan tahun ini. Beberapa unsur seperti penyambutan tamu dengan Tari Kawin Cai, prosesi adat, hingga tradisi makan bersama masyarakat disebut mengalami pengurangan.

Baca Juga :  Terjunkan Alat Berat! H-1 Penutupan, Satgas TMMD 127 Kodim 0617/Majalengka Ngebut Padatkan Jalan

Padahal, lanjut Handy, berbagai rangkaian tersebut merupakan bagian penting yang memberikan ruh dan karakter tersendiri bagi Babarit Winduherang.

“Yang dikhawatirkan, jika unsur budaya terus dikurangi, Babarit ke depan hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa kehilangan makna budayanya,” ujarnya.

Salah satu hal yang paling disoroti adalah tradisi makan bersama di sepanjang jalan yang selama ini menjadi simbol kebersamaan warga. Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya sekadar menyajikan makanan, tetapi menjadi ruang persatuan masyarakat tanpa melihat perbedaan status sosial, pekerjaan, maupun latar belakang.

Baca Juga :  Media Online ELTV.1 berbagi Takzil dan Nasi Bungkus di Bulan Ramadhan 1444 Hijriah

“Di momen itulah warga duduk bersama, mempererat silaturahmi, dan menunjukkan nilai gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat Winduherang,” katanya.

Handy juga menyinggung adanya informasi yang berkembang di masyarakat terkait penyederhanaan sejumlah prosesi budaya yang diduga berkaitan dengan perbedaan pandangan terhadap beberapa tradisi dalam perspektif keagamaan.

Namun, ia menegaskan persoalan tersebut perlu dikaji secara bijaksana melalui ruang dialog antara tokoh agama, tokoh adat, budayawan, pemerintah, dan masyarakat.

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90
Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin