Menurut Ariyanto, inovasi yang menjadi identitas SMPN 2 Kuningan adalah pengembangan budaya 7S. Jika umumnya sekolah menerapkan budaya 5S (Salam, Sapa, Senyum, Sopan, Santun), SMPN 2 Kuningan menambahkan dua nilai baru, yakni Sinergi dan Saling Mendoakan.
“Guru mendoakan guru, guru mendoakan murid, murid mendoakan guru, dan sesama murid saling mendoakan. Kami ingin membangun lingkungan belajar yang harmonis, nyaman, dan penuh keberkahan,” ungkapnya.
Program tersebut dipadukan dengan gerakan Pagiku Cerahku melalui Garda Spenda (Gerakan Berwudu Warga Spenda). Seluruh warga sekolah didorong telah berwudu sejak berangkat dari rumah sebagai bagian dari pembiasaan karakter.
Menurut Ariyanto, kebiasaan tersebut bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga membentuk kedisiplinan, kebersihan, ketenangan belajar, kepedulian sosial, dan penguatan spiritual peserta didik.
“Anak-anak datang ke sekolah membawa doa orang tua, datang dalam keadaan berwudu, lalu saling mendoakan dengan guru dan teman-temannya. Kami yakin budaya sederhana ini akan melahirkan generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia,” tuturnya.
Melalui berbagai inovasi tersebut, SMPN 2 Kuningan menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepedulian sosial, serta siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.(Heryanto)


















