Saat ini, pesantren lansia baru mampu menampung sekitar 50 peserta, meski minat masyarakat membludak hingga lebih dari 200 orang.
“Kami mohon maaf belum bisa menampung semuanya karena keterbatasan fasilitas. Tapi insyaallah ke depan akan kami kembangkan,” ujar Kang Iman.
Ke depan, Umi dan Kang Iman berharap program ini tidak hanya bersifat insidental, tetapi bisa berjalan berkelanjutan dengan konsep yang lebih terstruktur, mulai dari kegiatan harian, mingguan hingga bulanan.
Mereka juga memiliki visi besar menjadikan Kabupaten Kuningan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pembelajaran bagi lansia.“Harapannya, tempat ini menjadi tempat ‘recharge’ bagi para orang tua. Ketika pulang, mereka membawa semangat baru, energi positif untuk anak dan cucunya,” tutur Umi.
Di balik program Pesantren Lansia, keluarga Umi ternyata juga aktif mengelola berbagai kegiatan sosial melalui yayasan yang dijalankan oleh ketiga anaknya. Kang Iman mengelola Yayasan Dongeng Ceria yang membina anak yatim hingga dewasa serta pesantren di NTT dan Jonggol. Anak kedua, Kang Ade, mengembangkan Vila Quran sekaligus membina pendidikan remaja hingga jenjang perguruan tinggi, serta tengah merintis pesantren putri.
Sementara anak ketiga mengelola Yayasan Rahmatul Mawaddah, termasuk program Rumah Makan Gratis yang setiap hari menyediakan makanan bagi sekitar 200 orang tanpa memandang latar belakang.
Dalam menjalankan Pesantren Lansia, Umi menerapkan prinsip sederhana: tidak membebani peserta dengan biaya tetap.
“Saya pakai sistem ‘Bismillah’, seikhlasnya. Saya percaya rezeki itu dari Allah, bukan dari manusia,” ucapnya.
Dengan penuh keyakinan, Umi pun menutup ceritanya dengan kalimat yang menggugah.
“Umi lebih senang berbisnis dengan Allah. Kalau dengan manusia ada untung dan rugi. Tapi kalau dengan Allah, hasilnya pasti untung.”
Kisah Umi Komariyah dan keluarganya menjadi bukti bahwa kepedulian dan niat tulus mampu melahirkan gerakan besar. Pesantren Lansia Vila Quran pun kini tak sekadar tempat belajar, tetapi menjadi ruang harapan bagi para orang tua untuk kembali menemukan makna hidup di usia senja. (Heryanto)


















