“Legacy pemimpin sebelumnya justru harus dilestarikan. Masyarakat juga berhak mengetahui bahwa sebuah pembangunan merupakan bagian dari perjalanan dan sejarah daerah,” tegasnya.
“Kenapa Tidak Dibangun di Lokasi Lain?
Nuzul menilai Kabupaten Kuningan memiliki banyak lokasi strategis yang dapat dimanfaatkan untuk membangun ikon baru tanpa harus mengorbankan ikon lama.
Ia menyebut sejumlah persimpangan jalan maupun ruang publik dapat menjadi alternatif lokasi pembangunan tugu kuda.
“Banyak persimpangan jalan di Kuningan yang bisa dijadikan ciri atau ikon. Seperti Tugu Angklung yang dibangun di lokasi baru, itu menurut saya bagus. Jadi tidak perlu mengorbankan ikon yang sudah ada,” ungkapnya.
Menurut Nuzul, keberadaan berbagai ikon justru dapat memperkuat karakter dan identitas Kabupaten Kuningan, terutama jika masing-masing memiliki nilai sejarah dan budaya.
Pembongkaran Sudah Terjadi, Jangan Jadi Kebiasaan
Terkait tugu bola dunia yang sudah dibongkar, Nuzul mengatakan persoalan tersebut kini telah terjadi sehingga tidak ingin memperpanjang polemik.
Namun, ia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi agar pembangunan ikon daerah ke depan dilakukan dengan lebih mempertimbangkan nilai sejarah.
“Kalau yang sudah dibongkar, ya sudah. Jangan kemudian menjadi kebiasaan. Ke depan harus lebih hati-hati,” katanya.
Nuzul menegaskan, dirinya tidak menolak pembangunan tugu kuda. Sebaliknya, ia mendukung penguatan identitas Kuningan melalui simbol budaya daerah, tetapi meminta agar pembangunan tersebut tidak dilakukan dengan menghapus jejak masa lalu.
“Bikin ikon baru silakan. Tapi jangan hapus sejarah. Karena Kuningan bukan hanya milik pemimpin hari ini, tetapi juga milik para pendahulu dan generasi yang akan datang,” pungkasnya.(Heryanto)


















