Ia menegaskan, pengembangan Living Lab Tirta Pawitan menjadi langkah strategis untuk memadukan budaya lokal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat, tradisi Kawin Cai diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber air.
Kegiatan yang melibatkan Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Kuningan (Uniku), dan Yayasan Kibar Budaya Nusantara tersebut dinilai sebagai peluang untuk mengembangkan inovasi konservasi berbasis kearifan lokal.
Tuti berharap hasil riset tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi dapat diterapkan langsung dalam menjaga ketersediaan air bersih dan meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai penjaga mata air.
“Menjaga dan merawat alam adalah tanggung jawab kita bersama. Perhatian dari sisi akademik dan riset ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan lingkungan,” katanya.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan forum diskusi kelompok terarah (FGD) yang dilanjutkan dengan pelatihan menjaga dan merawat sumber mata air.
Dalam kegiatan tersebut hadir Ade Kadarisman dari Staf Kepresidenan, Kepala Bappeda, Kepala DPMD, perwakilan Dinas PUTR, Dinas Lingkungan Hidup, Disdikbud, Sekban Kesbangpol, Camat Jalaksana, serta para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana.
Melalui Living Lab Tirta Pawitan, Pemkab Kuningan berharap tradisi Kawin Cai tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi gerakan nyata konservasi sumber mata air demi memperkuat ketahanan air bagi generasi sekarang dan mendatang. (Heryanto)

















