“Ini bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu hari. Dengan keterbatasan tenaga yang ada, maka harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan,” katanya.
Wabup menjelaskan, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali dapat memberikan dampak terhadap lingkungan perairan, mulai dari mengganggu keindahan kawasan wisata, menurunkan kualitas air, hingga menghambat keseimbangan ekosistem Waduk Darma.
“Eceng gondok bisa mempengaruhi kualitas air, menyebabkan pendangkalan, serta mengganggu ekosistem yang ada di waduk. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini,” jelasnya.
Tuti mengingatkan masyarakat dan para pelaku usaha agar tidak menunggu eceng gondok berkembang luas baru melakukan penanganan. Menurutnya, pembersihan secara rutin akan jauh lebih efektif dibandingkan harus melakukan penanganan ketika kondisi sudah parah.
“Kalau sudah tumbuh, jangan dibiarkan. Masyarakat dan para pelaku usaha yang berada di sekitar Waduk Darma harus ikut peduli dan memiliki inisiatif untuk membersihkan secara rutin agar tidak semakin meluas,” tegasnya.
Ia menilai, keterlibatan pelaku ekonomi sangat penting karena keberadaan Waduk Darma memiliki kaitan erat dengan aktivitas usaha masyarakat, terutama sektor wisata dan UMKM.
“Waduk Darma yang bersih dan nyaman tentu akan menarik wisatawan datang. Dampaknya juga akan dirasakan oleh para pelaku usaha. Tetapi kalau waduk dipenuhi eceng gondok, tentu akan mengurangi daya tarik kawasan ini,” ungkapnya.
Wabup berharap gerakan menjaga Waduk Darma dapat menjadi budaya bersama, bukan hanya dilakukan ketika terjadi persoalan lingkungan.
“Menjaga Waduk Darma bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Mari bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestariannya agar tetap menjadi kebanggaan masyarakat Kuningan dan terus memberikan manfaat ekonomi,” pungkas Tuti.(Heryanto)


















