ELTV SATU || KUNINGAN – SDN 1 Lebakwangi terus membangun identitas sekolah melalui beragam program inovatif yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menanamkan karakter, kemandirian, literasi, kesehatan, dan akhlak mulia kepada peserta didik.
Kepala SDN 1 Lebakwangi, Haris Fadillah, mengatakan Paskibra menjadi salah satu program yang kini diperkuat sebagai bagian dari branding sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata dipersiapkan untuk menghadapi perlombaan, melainkan menjadi media pembentukan karakter siswa.
“Branding kami memang terfokus pada Paskibra. Melalui Paskibra ini kami berharap dapat membentuk karakter siswa-siswi kami,” ujar Haris.
Ia menjelaskan, pembinaan melalui Paskibra dan Polisi Cilik (Pocil) diarahkan untuk menumbuhkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti di kegiatan latihan, tetapi terbawa dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah.
Perubahan itu, kata Haris, mulai terlihat dari tumbuhnya kesadaran siswa dalam menjalankan berbagai aktivitas tanpa harus selalu menunggu instruksi guru.
“Kalau dulu anak-anak harus disuruh untuk menyiram bunga dan sebagainya, sekarang dengan adanya kegiatan ini, kesadaran itu tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Bagi Haris, penghargaan dan kemenangan dalam perlombaan bukanlah tujuan akhir. Prestasi justru dipandang sebagai bonus dari proses pembinaan karakter yang dilakukan secara konsisten.
“Yang sangat kami harapkan adalah pembentukan karakter, perubahan sikap, dan perubahan kebiasaan ke arah yang lebih positif. Kalau mendapat juara atau kemenangan dalam perlombaan, itu hanyalah bonus,” ungkapnya.
“Dorong Generasi Hebat dan Berakhlak Mulia.”
Meski baru sekitar enam bulan memimpin SDN 1 Lebakwangi, Haris mulai mengembangkan sejumlah program yang selaras dengan visi sekolah, yakni membentuk generasi yang hebat, memiliki jiwa kepemimpinan, serta berakhlak mulia.
Penguatan tersebut tidak hanya dilakukan melalui kegiatan nonakademik. Bidang literasi juga mendapat perhatian serius melalui program Duta Baca yang menerapkan konsep tutor sebaya.
Siswa kelas 5 dan 6 yang ditunjuk sebagai Duta Baca diberikan peran untuk mendampingi siswa kelas rendah yang masih mengalami kesulitan membaca.

















