Bahkan, warga binaan yang telah mengikuti pelatihan dan akan bebas nantinya diharapkan dapat melanjutkan pekerjaan di kawasan Palutungan.
“Kita ingin warga binaan memiliki keterampilan dan setelah bebas mempunyai pilihan pekerjaan. Kalau nantinya mendapat pekerjaan yang lebih baik, silakan. Yang penting mereka memiliki bekal,” ujarnya.
Eris juga menyebut pengembangan peternakan dan program kemandirian tersebut didukung anggaran secara bertahap. Konsepnya diarahkan agar kegiatan produktif dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat proses reintegrasi sosial warga binaan.
Selain peternakan, Lapas juga berencana mengembangkan produksi roti dengan meningkatkan kapasitas dan keterampilan melalui pelatihan.
Dalam kesempatan tersebut, Eris kembali menegaskan bahwa tujuan akhirnya bukan sekadar menjalankan program, tetapi meninggalkan warisan program yang memberi solusi dan manfaat ketika dirinya kelak tidak lagi memimpin Lapas Kuningan.
“Saya ingin suatu saat meninggalkan Lapas Kuningan dalam bentuk solusi bagi Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, wartawan yang hadir mengapresiasi rencana keterbukaan komunikasi tersebut dan berharap hubungan Lapas dengan media semakin intensif.
Media juga mendorong agar kegiatan positif seperti pembinaan kemandirian, bakti sosial, pengembangan Palutungan, hingga program pemberdayaan warga binaan dapat menjadi ruang kolaborasi untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka dan proporsional.
Eris menyambut baik masukan tersebut. Ia berharap sinergi Lapas dan media dibangun atas dasar kepercayaan, keterbukaan, serta kepentingan publik.
“Kalau kepercayaan itu kita bangun bersama, mudah-mudahan alat ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menyebarkan kebaikan,” pungkasnya.(Heryanto)

















