ELTV SATU || KUNINGAN – Keberhasilan Kopi Karangsari dari Desa Karangsari, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, menembus festival kopi internasional di Bangkok, Thailand, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Namun di balik prestasi tersebut, masih tersimpan persoalan mendasar yang hingga kini belum terselesaikan, yakni kondisi akses jalan menuju kawasan perkebunan kopi yang dinilai belum memadai.

Hal itu terungkap dalam wawancara ELTVSATU bersama Aen, S.Pd., pelopor pengembangan Kopi Karangsari, Dede Rokanda selaku penerus pengelola Merta Kopi sekaligus Sekretaris Desa Karangsari, serta Kepala Desa Karangsari Sahidin (Aldi), di Balai Desa Karangsari, Senin (3/8/2026).
Aen, S.Pd. menjelaskan, perjalanan Kopi Karangsari bermula dari kolaborasi masyarakat desa dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, para petani kopi, dan Hj. Tati dari Cirebon. Saat itu sekitar 64 ton kopi cherry dari kawasan Pasir Batang diolah sebagai langkah awal membangun kualitas kopi Karangsari.
Meski sempat menghadapi kendala tingginya kelembapan yang menyebabkan kadar air kopi kembali meningkat setelah penyimpanan, semangat masyarakat tidak pernah surut. Proses penjemuran bahkan dipindahkan ke Cirebon demi menjaga mutu kopi.
“Perjalanan itu menjadi awal berkembangnya kopi Karangsari hingga akhirnya diteruskan oleh komunitas Destana Kopi yang kemudian berkembang menjadi Merta Kopi. Berkat pendampingan Bank Indonesia, kopi Karangsari kini dikenal hingga tingkat internasional,” ujarnya.
Menurut Aen, Desa Karangsari memiliki potensi besar sebagai sentra kopi sekaligus kawasan wisata alam. Namun, potensi tersebut belum didukung infrastruktur yang memadai.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kuningan dapat memberikan perhatian serius terhadap pembangunan dan perbaikan akses jalan menuju kawasan perkebunan kopi. Jalan yang layak diyakini akan mempermudah aktivitas petani, memperlancar distribusi hasil panen, serta membuka peluang berkembangnya wisata kopi di Desa Karangsari.
Sementara itu, Dede Rokanda menjelaskan, pengembangan modern Kopi Karangsari dimulai pada 2019 ketika para pemuda desa mempelajari teknik budidaya dan pengolahan kopi secara profesional melalui pendampingan Bank Indonesia Cirebon.


















