“Kami tidak bisa sembarangan memasukkan susu lokal yang belum benar-benar teruji. Kami mengutamakan keselamatan penerima manfaat dan menghindari risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari,” katanya.
Nurjaman menegaskan, selama belum tersedia susu lokal yang memenuhi persyaratan, menu MBG tetap disusun berdasarkan pedoman gizi seimbang atau konsep Isi Piringku. Ia juga menjelaskan bahwa sejak awal Program MBG tidak mewajibkan adanya susu dalam setiap paket makanan.
“BGN sejak awal tidak mewajibkan susu harus selalu ada dalam menu. Yang terpenting adalah kebutuhan gizi seimbang tetap terpenuhi. Memang di lapangan susu cukup disukai, sehingga dapur yang memungkinkan dipersilakan menyediakannya. Namun saat ini kami mengikuti arahan untuk menghentikan sementara penggunaan susu sampai ada produk lokal yang siap,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai batas waktu penghentian distribusi susu, Nurjaman mengaku belum dapat memastikan.
“Belum tahu sampai kapan. Saat ini kami masih mencari susu lokal yang benar-benar baik dan memenuhi standar. Di Kabupaten Kuningan memang sudah ada beberapa produk, tetapi kami masih perlu memastikan kesiapan dan keamanannya sebelum digunakan dalam Program MBG,” pungkasnya.(Heryanto)


















