Salah seorang pencari kerja asal Kecamatan Jatiwangi, Rizky (22), mengaku harus datang sejak pagi untuk mendapatkan antrean.
“Datang dari jam tujuh pagi supaya kebagian nomor antrean. Soalnya kalau kesiangan biasanya antreannya sudah penuh,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Siti Nurjanah (20), warga Kecamatan Kadipaten. Ia berharap pelayanan kartu kuning bisa ditambah agar masyarakat tidak menunggu terlalu lama.
“Semoga fasilitas dan petugasnya bisa ditambah, karena yang bikin kartu kuning sekarang banyak sekali,” katanya.
Sementara itu, pencari kerja lainnya, Andri (24), mengaku pembuatan kartu kuning menjadi syarat utama untuk melamar pekerjaan yang sedang dibuka di sejumlah perusahaan.
“Sekarang banyak lowongan yang minta kartu kuning sebagai syarat administrasi, jadi mau tidak mau harus bikin,” tuturnya.
Lonjakan pemohon kartu kuning ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mencari pekerjaan, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan publik di tengah keterbatasan fasilitas dan sumber daya yang ada.

















