“Para leluhur telah memberikan teladan bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan alam dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan hama sekalipun tidak dimusnahkan secara serampangan, melainkan dikembalikan ke habitatnya sebagai simbol penghormatan terhadap keseimbangan alam,” demikian kutipan sambutan Bupati yang dibacakan Wakil Bupati.
Bupati juga menilai nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika dunia menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan menurunnya kualitas sumber daya alam.
Karena itu, kegiatan penanaman pohon yang menjadi bagian dari rangkaian acara diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni semata, melainkan menjadi gerakan bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Menanam pohon adalah menanam doa dan harapan bagi masa depan. Ini merupakan bentuk rasa syukur nyata sekaligus investasi bagi anak cucu kita agar tetap dapat menikmati lingkungan yang lestari,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Kuningan sebagai daerah konservasi memiliki tanggung jawab besar menjaga keberadaan Gunung Ciremai, kawasan hutan, mata air, sungai, dan lahan pertanian yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pupuhu AKUR Sunda Wiwitan, Rama Pangeran Djatikusumah, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian Seren Taun 2026. Ia menegaskan bahwa Pésta Dadung merupakan tradisi yang terus dipelihara sebagai ungkapan syukur atas rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Menurutnya, tradisi tersebut mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap lingkungan terus diwariskan kepada generasi penerus melalui berbagai ritual adat yang dilaksanakan setiap tahun.
Rama Pangeran Djatikusumah juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan, DPRD, TNI, Polri, dan seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Seren Taun.
“Mudah-mudahan seluruh rangkaian acara Seren Taun dapat berlangsung dengan lancar, aman, dan membawa keberkahan bagi masyarakat,” katanya.
Panitia menjelaskan, selama lima hari pelaksanaan Seren Taun, berbagai kegiatan adat, budaya, dan kebangsaan akan digelar. Setelah Pésta Dadung, rangkaian acara akan dilanjutkan dengan Sarasehan Empat Pilar Kebangsaan di Paséban Tri Panca Tunggal, pertunjukan seni budaya, doa lintas iman, hingga puncak Upacara Adat Seren Taun yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu dan Senin mendatang.
Pésta Dadung sendiri merupakan tradisi masyarakat Desa Legokherang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, yang telah dikenal sejak abad ke-18. Tradisi tersebut berakar dari kehidupan masyarakat agraris sebagai bentuk penghormatan kepada Ratu Galuh yang diyakini sebagai pelindung ternak dan kehidupan pertanian.
Melalui simbol-simbol budaya dan pertunjukan tradisional, ritual ini menggambarkan kehidupan masyarakat tani Sunda pada masa lampau, mulai dari aktivitas menggembala hingga mengolah sawah. Selain sebagai upaya pelestarian warisan leluhur, Pésta Dadung juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal dan memahami kearifan lokal Sunda.
Rangkaian kegiatan tersebut semakin menegaskan bahwa Seren Taun bukan hanya perayaan adat tahunan, melainkan pengingat penting bagi masyarakat unt5uk terus menjaga persaudaraan, melestarikan budaya, serta merawat keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.(Heryanto)


















