Menurut dia, foto tersebut kemudian ditampilkan kembali dalam materi acara dengan kondisi telah dipotong atau di-crop.
Kondisi itu membuat pihaknya mempertanyakan apakah memang terdapat kegiatan penghargaan berbeda yang kebetulan memiliki penerima yang sama atau dokumentasi kegiatan Rakyat Pinunjul digunakan dalam agenda pemerintah dengan identitas berbeda.
“Kami coba pertanyakan, apakah itu benar. Kami sudah tabayun kepada pihak terkait dengan jawaban yang variatif. Sehingga muncul dugaan atau asumsi bahwa kegiatan yang disebutkan pada acara paripurna adalah acara kami, kemudian disebut sebagai Masyarakat Pinunjul seolah-olah dari pemerintah daerah,” tuturnya.
Dede menegaskan, pihaknya tidak keberatan apabila Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan penghargaan kepada masyarakat. Menurutnya, semakin banyak pihak yang memberikan apresiasi terhadap masyarakat berprestasi merupakan hal positif.
Yang menjadi persoalan, kata dia, adalah tidak adanya komunikasi dan koordinasi yang jelas dengan pihak Waroeng Rakyat sebelum penggunaan identitas maupun dokumentasi penghargaan tersebut.
“Kalau misalnya ada diskusi, tentu akan lebih elok. Apalagi pesertanya adalah pemenang di acara kita dan foto yang ditampilkan juga foto di acara kami,” katanya.
“Tak Ingin Polemik Mengaburkan Makna Penghargaan.”
Meski mengaku kecewa, Dede berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Ia ingin substansi utama Rakyat Pinunjul tetap menjadi perhatian, yakni memberikan penghargaan kepada masyarakat biasa yang selama ini bekerja, mengabdi dan memberikan kontribusi tanpa banyak mendapat sorotan.
Terlebih, salah satu penerima Rakyat Pinunjul mendapat apresiasi langsung dari Bupati Kuningan. Dede menyebut penerima kategori Marbot Pinunjul mendapatkan hadiah umrah dari Bupati Kuningan.
Apresiasi tersebut justru disambut positif oleh Komunitas Waroeng Rakyat karena dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat yang dianggap layak mendapatkan penghargaan.
“Adapun apresiasi dari Pak Bupati bahwa Marbot Pinunjul mendapatkan hadiah umrah, kami mengapresiasi hal tersebut,” ujarnya.
Dede berharap persoalan mengenai identitas penghargaan tersebut dapat disikapi secara bijaksana. Baginya, yang terpenting adalah pesan dari Rakyat Pinunjul dapat terus menyebar dan menginspirasi masyarakat Kuningan.
“Kalau misalnya tidak ada klarifikasi dari pemda, bagi kami tidak masalah, silakan saja. Yang penting pesan kami kena, yaitu memberikan inspirasi. Lima pemenang Rakyat Pinunjul ini adalah orang-orang hebat,” pungkasnya.(Heryanto)

















