“Kami membuka peluang sebesar-besarnya bagi petani Kuningan. Kalau kualitas bagus dan harga kompetitif, tentu kami siap menampung,” katanya.
Selain menjadi pusat distribusi, Rumah Sayur juga diproyeksikan sebagai bagian dari kerja sama antara sektor swasta dan pemerintah daerah bersama Perumda untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus menjadi pusat penerimaan hasil bumi petani Kuningan.
Bahtiar menjelaskan, peluncuran 100 titik Rumah Sayur di Jakarta akan diprioritaskan menggunakan pasokan dari petani Kuningan. Meski diakuinya kapasitas produksi saat ini belum sepenuhnya siap, pihaknya akan melakukan pendampingan kepada petani agar mampu meningkatkan luas tanam dan produktivitas secara bertahap.
“Kami tidak hanya membeli hasil panen, tetapi juga akan turun langsung mendampingi petani agar kapasitas produksinya terus meningkat,” ujarnya.
Ia juga memastikan proyek pertanian yang sebelumnya dimulai di kawasan Awirarangan terus berjalan. Bahkan, lahan tersebut dijadwalkan memasuki masa panen dalam dua pekan ke depan sebagai bagian dari pengembangan jaringan pertanian Rumah Sayur di Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali.
Di akhir wawancara, Bahtiar menegaskan motivasi utama pengembangan Rumah Sayur bukan semata bisnis, melainkan bentuk kontribusi generasi muda terhadap ketahanan pangan nasional.
“Kami ingin berkontribusi untuk negara. Tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah pangan dan energi. Saya juga berasal dari keluarga petani, ibu saya pedagang sayur. Karena itu saya ingin melanjutkan perjuangan tersebut dengan membangun ekosistem yang mampu menyejahterakan petani,” pungkasnya.(Heryanto)


















