ELTV SATU || KUNINGAN – Program revitalisasi sekolah di Kabupaten Kuningan bukan hanya ditujukan untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. Program tersebut juga dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat karena pelaksanaannya melibatkan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan Dr. Elon Carlan, S.Pd., M.MPd., melalui Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar (SD), Surya, S.Pd., M.M., saat ditemui Jumat (18/9/2026).
Surya menjelaskan, nilai program pendidikan yang masuk ke Kuningan hampir mencapai Rp100 miliar. Perputaran anggaran tersebut dinilai memberikan dampak langsung terhadap masyarakat.
“Kalau Rp100 miliar itu beredar di masyarakat Kuningan. Misalnya 25 persen untuk upah kerja, sekitar Rp25 miliar bisa dinikmati masyarakat, mulai tukang, pekerja hingga tenaga pendukung lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan revitalisasi dengan pola swakelola menjadi salah satu faktor yang membuat manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan masyarakat sekitar sekolah. Tenaga kerja dan kebutuhan material diupayakan berasal dari lingkungan setempat sepanjang memenuhi ketentuan dan kebutuhan teknis.
“Revitalisasi kan swakelola dan dilakukan masyarakat setempat. Kalau di desa tidak ada tenaga ahli, baru bisa mencari dari luar. Tapi insyaallah di Kuningan tenaga ahlinya ada,” katanya.
Selain berdampak terhadap tenaga kerja, perputaran dana juga menyentuh toko-toko dan penyedia kebutuhan pembangunan di wilayah Kuningan.
Surya menegaskan, besarnya program tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab dan keterbukaan dalam pelaksanaannya. Kepala sekolah sebagai penerima manfaat sekaligus pihak yang melakukan kerja sama dengan kementerian diminta menjaga kualitas pekerjaan dan dapat mempertanggungjawabkan penggunaan program.
“Revitalisasi ini merupakan kerja sama langsung antara kepala sekolah dengan kementerian. Dinas sifatnya koordinasi dan pengawasan,” jelasnya.

















