Indra menegaskan, sesuai arahan Bupati Kuningan, penanganan terhadap masyarakat terdampak menjadi prioritas, terutama bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
BPBD bersama unsur terkait terus melakukan pembersihan puing, pendataan, serta mengidentifikasi kebutuhan bantuan. Rumah yang mengalami kerusakan berat akan menjadi perhatian untuk mendapatkan bantuan material bangunan maupun bentuk penanganan lainnya sesuai kondisi.
Terkait fenomena hujan es yang menyertai angin kencang, Indra menyebut kejadian tersebut sangat mungkin terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba.
Perubahan suhu dan tekanan udara secara drastis di atmosfer dapat memicu terbentuknya fenomena cuaca ekstrem, termasuk hujan es dan angin kencang.
“Peringatan dini dari BMKG menjadi acuan penting bagi kita untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi perubahan cuaca yang cepat,” ujarnya.
Sementara itu, total kerugian akibat bencana tersebut belum dapat dipastikan. BPBD masih melakukan inventarisasi secara menyeluruh untuk menghitung kebutuhan penanganan pascabencana sekaligus mengklasifikasikan kerusakan yang terjadi.
Indra juga menyoroti kondisi sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan parah, khususnya bangunan dengan konstruksi atap berbahan baja ringan atau spandek. Sebaliknya, beberapa bangunan lama yang tidak menggunakan konstruksi tersebut terpantau masih cukup kokoh.
Meski demikian, BPBD belum menyimpulkan penyebab perbedaan tingkat kerusakan tersebut. Evaluasi konstruksi bangunan akan dilakukan bersama tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan unsur terkait.
“Ini masih menjadi bahan kajian. Nantinya akan kami evaluasi bersama tim teknis agar bisa diketahui faktor yang memengaruhi tingkat kerusakan bangunan,” pungkasnya.(Heryanto)

















