Menurutnya, dengan bentangan ruang kelas yang menggunakan genteng jenis plentong dengan bobot sekitar 1 kilogram per buah, dibutuhkan struktur rangka atap baja ringan yang kuat dan stabil. Ia menyebutkan, jarak antar kuda-kuda idealnya maksimal 80 sentimeter agar mampu menahan beban genteng secara optimal.
Selain itu, Ahmad juga menyoroti perlunya penambahan gording antar, penggunaan material baja ringan dengan spesifikasi minimal CNP 0,75 dan reng 0,45, serta pemasangan bracing yang sesuai standar. Dari pengamatan sepintas terhadap foto yang beredar, ia menduga jarak antar kuda-kuda tidak sesuai dengan beban genteng yang digunakan.
“Jika dilihat sepintas dari foto yang beredar, jarak antar kuda-kuda diduga tidak sesuai untuk menahan beban genteng plentong, apalagi jika menggunakan genteng dengan bobot lebih berat,” ujarnya.
Peristiwa ini turut menyoroti tanggung jawab pihak terkait. Terlebih, bangunan tersebut diketahui baru direhabilitasi pada tahun 2021 atau baru berusia sekitar empat tahun lebih lima bulan. Proyek tersebut diduga dikerjakan oleh kontraktor CV Explore dengan direktur berinisial M.R.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka terkait dugaan faktor teknis dalam konstruksi bangunan tersebut.(VC)












