Arunika Jadi Percontohan
Pemilihan Arunika sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Menurut Yono, kawasan tersebut telah menerapkan pengolahan sampah melalui budidaya maggot sehingga sampah organik yang dihasilkan dapat dikelola di lokasi dan tidak lagi dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Para peserta diajak melihat langsung proses pengolahan tersebut untuk mempelajari pola yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing. Meski demikian, penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan setiap desa atau kelurahan.
Yono juga mendorong pengelola Arunika menjadi mentor bagi para penggiat maggot di Kecamatan Cigugur, mulai dari pendampingan teknis hingga konsultasi bisnis dan pemasaran.
“Kami ingin praktik yang sudah berjalan di Arunika bisa direplikasi di desa dan kelurahan lain. Pengelola Arunika juga bersedia membantu menjadi mentor bagi peternak maggot,” ungkapnya.
Melalui langkah tersebut, Kecamatan Cigugur berharap pengelolaan sampah organik tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga melahirkan usaha produktif berbasis lingkungan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pasar, kapasitas produksi, dan kerja sama antarpihak benar-benar berjalan. Dengan begitu, budidaya maggot tidak berhenti sebagai kegiatan pengolahan sampah semata, melainkan berkembang menjadi sumber nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.(Heryanto)

















