“Maggot Jadi Andalan, Solusi atau Alternatif Sementara?
DLH mendorong pemanfaatan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik. Sejumlah wilayah seperti Panyasari dan Padamulya Timur disebut telah mulai menerapkannya.
“Untuk sampah organik, bisa bekerja sama dengan kelompok masyarakat yang mengelola maggot. Itu lebih bagus,” ujar Usep.
Selain mengurangi volume sampah, maggot juga memiliki nilai ekonomi sebagai pakan unggas berprotein tinggi. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada konsistensi pengelolaan di lapangan.
“Retribusi Nol, Asal Tidak Jadi Beban Lingkungan?
DLH bahkan membuka opsi penghapusan retribusi bagi pengelola yang mampu mandiri. Kebijakan ini dinilai sebagai insentif, sekaligus upaya mengurangi beban pengangkutan oleh pemerintah.
“Saya tidak masalah retribusi dinolkan, selama sampahnya tidak dibuang sembarangan,” ungkap Usep.
Namun, jika pengelolaan diserahkan ke DLH, maka mekanisme dan biaya tetap diberlakukan.
“Kesadaran Jadi Kunci, Pengawasan Akan Diuji?
Usep menegaskan bahwa persoalan sampah tidak semata soal teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran pengelola.
“Jangan semua dibebankan ke pemerintah. Harus ada kesadaran dari masing-masing pengelola,” tegasnya.
DLH berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan pengelolaan sampah di dapur MBG berjalan sesuai aturan.
“Nanti akan ada pengawasan. Kalau tidak sesuai, tentu akan kami tindak,” pungkasnya.(Heryanto)


















