“Kami berharap mahasiswa dapat berbaur dengan masyarakat, melihat langsung kondisi di lapangan, serta memberikan kontribusi nyata selama pelaksanaan KKN. Kami juga memohon bimbingan dari pemerintah desa agar pelaksanaan KKN ini berjalan dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan KKN Universitas Islam Al-Ihya Kuningan Tahun 2026 dipusatkan di Kecamatan Cilimus dengan penyebaran mahasiswa di sembilan desa, termasuk Desa Linggamekar.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Linggamekar, Juharaga, S.E., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Universitas Islam Al-Ihya Kuningan yang menjadikan desanya sebagai lokasi pelaksanaan KKN. Menurutnya, kehadiran mahasiswa menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan masyarakat.
Juharaga menjelaskan bahwa Desa Linggamekar merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Linggajati sejak 28 Oktober 1982. Desa tersebut terdiri atas tiga dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.130 jiwa atau 716 kepala keluarga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, pekebun, dan peternak.
“Kami berharap apa yang selama ini dipelajari di bangku kuliah dapat diimplementasikan di Desa Linggamekar. Mudah-mudahan mahasiswa dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan memberikan dampak positif bagi kemajuan desa,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Desa Linggamekar kini telah ditetapkan sebagai desa wisata dan sedang mempersiapkan berbagai program pengembangan destinasi wisata yang mendapat dukungan dari pemerintah pusat.
Karena itu, Juharaga mengajak seluruh mahasiswa untuk aktif berinteraksi dengan masyarakat, termasuk ikut menyukseskan rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia selama bulan Agustus.
“Jangan sungkan berbaur dengan masyarakat. Linggamekar terbuka bagi siapa saja. Mari bersama-sama menjaga silaturahmi, kekompakan, dan bekerja sama membangun desa,” pesannya.
Melalui penerimaan resmi tersebut, Pemerintah Desa Linggamekar bersama Universitas Islam Al-Ihya Kuningan berharap pelaksanaan KKN Tahun 2026 tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga mampu melahirkan berbagai program inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat semangat gotong royong, serta membangun kemitraan yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.(Heryanto)


















