Fasilitasi tersebut mencakup seragam, uang saku, penginapan hingga konsumsi. Anggaran disiapkan sampai kompetisi tuntas, terlepas dari target medali masing-masing cabor.
Namun, setelah dua kali kekalahan, peluang tim basket putra 5×5 untuk melaju ke babak berikutnya dinilai sudah tertutup. Pihak official kemudian menyampaikan permintaan untuk tidak melanjutkan pertandingan.
“KONI mempersilakan. Tidak ada persoalan efisiensi atau pembatasan. Kalau masih mau melanjutkan, silakan. Kalau memilih pulang karena peluang lolos sudah tertutup, juga tidak masalah. Itu menjadi keputusan manajer dan official masing-masing cabor,” ungkapnya.
Toto juga menyebutkan, nomor basket putri 5×5 dan 3×3 tetap menjalani kompetisi dengan pembiayaan mandiri dari tim masing-masing.
Ia berharap polemik ini menjadi bahan evaluasi bagi Perbasi, terutama dalam mempersiapkan atlet, kepengurusan, serta strategi pembinaan menghadapi kompetisi berikutnya.
Menurutnya, mengelola cabor membutuhkan komitmen, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya. Terlebih, olahraga yang dikelola merupakan cabang olahraga amatir yang membutuhkan keseriusan seluruh pengurus.
“Ke depan harus menjadi evaluasi. Pengurus cabor harus benar-benar memahami apa yang perlu dipersiapkan. Mengurus olahraga itu membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang,” pungkasnya.(Heryanto)

















